klik soreang 24/01/2015

KSAL Laksamana Madya TNI, Ade Supandi, S.E,  Menerima Eka Santosa dan Pengurus BOMA Jabar di Rumah Jabatannya di Jakarta

Eka Santosa, Pangaping (penasihat) BOMA (Baresan Olot Masyarakat Adat) Jabar, Rabu malam, 21 Januari 2015 mengantar sekitar 20 pengurus BOMA Jabar untuk melakukan pertemuan silaturahmi dengan KSAL Laksamana Madya TNI, Ade Supandi. Pertemuan pada malam hari itu (Pukul 21.00 – 23.00 WIB), berlangsung banyak secara in formal dan penuh dengan kekerabatan. 
“Kami hadir dan diterima dengan baik oleh Kang Ade (Ade Supandi) tadi. Banyak hal yang dibahas mulai dari soal kemaritiman, hak ulayat masyarakat adat, hingga persoalan lingkungan hidup ..."
 
“Saya ucapkan terima kasih atas kehadirannya. Benar, saya bukan siapa-siapa dihadapan para Olot (tetua adat), terumana. Saya ini pituin dari Batujajar (Kab. Bandung Barat – red). Malahan kerabat saya pun yang tinggal di Kampung Mahmud (Cigondewah, Kota Bandung – red). Dulu waktu masih kecil, saya suka main penca silat disana. Tapi jangan diminta sekarang mendemokannya.. .”, begitu cuplikan dalam kata sambutannya yang disambut senyum oleh para tamunya.
Menurut Eka Santosa, mantan Ketua DPRD Jabar (1999 -2004) dan Ketua Komisi ll DPR RI (2004 – 2009) serta kini masih menyandang sebagai Ketua DPW Partai NasDem Jabar, pertemuan ini bisa terselenggara semata demi mensyukuri pengangkatan Ade Supandi oleh Presiden Jokowi (31 Desember 2014) sebagai KSAL menggantikan Laksamana Marsetio yang memasuki masa pensiun. 
“Beliau kan orang Sunda yang kini sedang berkiprah di tingkat nasional. Peran TNI AL saat ini sangat strategis, bila dihubungkan dengan kiprah Menteri KKP, Susi Pudjiastuti yang juga berasal dari Jabar, Pangandaran. Pun, tema kepemimpinan Presiden Jokowi dengan platform menjadikan NKRI sebagai poros maritim dunia, ditangkap oleh para Olot di BOMA Jabar harus diperkuat pancangannya,” tegas Eka.
“Kami hadir dan diterima dengan baik oleh Kang Ade (Ade Supandi) tadi. Banyak hal yang dibahas mulai dari soal kemaritiman, hak ulayat masyarakat adat, hingga persoalan lingkungan hidup yang dialami oleh masing-masing komunitas adat di berbagai pelosok Jabar. Beliau mengapresiasi saran dan usulan kami”, kata Wa Ugis, salah satu Olot yang berasal dari Kampung Adat Sirna Resmi, Kabupaten Sukabumi.
Jajang Sanaga, Ketua Harian BOMA Jabar, dalam pertemuan ini selain mengapresiasi kinerja TNI AL, paling akhir dalam penanganan bencana jatuhnya pesawat AirAsia QZ 8501 yang lalu (28/12/2014) di sekitar Selat Karimata, Kalimantan Tengah, pun mengharapkan putra terbaik dari tatar Sunda yang kini berkiprah di tingkat nasional, dalam hal mengemban amanahnya senantisa memperoleh aneka kelancaran. “Kang Ade, bersedia pula hadir ke Pasir Impun, Kabupaten Bandung (Sekretariat BOMA Jabar – red) pada sekitar Maret 2015. Beliau pun akan lebih seksama memperhatikan aspirasi warga pesisir Jabar bila kebetulan sedang berada di sini (Jabar-red) ”.
Menurut Jajang, Ade Supandi akan bersegera mewujudkan pelabuhan laut di sekitar LANAL di Garut Selatan saat ini. “Meskipun kepentingan ekonominya relatif masih kecil, keberadaan pangkalan laut di Jabar Selatan amat strategis. Paling dekat kita berhadapan dengan kepulauan Christmast milik negara tetangga terdekat disana, Australia”, jelas Ade Supandi tatkala diklarifikasi perihal kebutuhan pelabuhan laut yang memadai di pesisir selatan Jabar.
Pertemuan ini menurut Ade Supandi yang mulai berdinas sejak 1983 sejak lulus Akademi Angkatan Laut TNI angkatan ke-28 dengan jabatan sebelum saat ini sebagai Kepala Staf Umum TNI per 12 Mei 2014, dirasakannya sebagai sesuatu hal yang penting:”Baru-baru ini pun saya sudah menerima berbagai aspirasi dari banyak kelompok masyarakat di Indonesia Timur. Kehadiran BOMA Jabar, sungguh menggugah saya untuk sama-sama kita membangun tatar Sunda lebih baik lagi”.
Suasana pertemuan yang penuh keakraban tanpa panduan protokoler ketat, tak urung bagi Naskim, salah satu perwakilan dari komunitas “Suku Dayak Hindu Budha Bhumi Segandhu” dari Losarang Indramayu yang penampilannya amat bersahaja – bercelana kutung hitam dan putih serta tanpa mengenakan kemeja, ”Ini mah Pak Jenderal, kami sangat senang ada perwakilan kita di tingkat nasional yang bisa menjadi panglima angkatan laut. Kalaulah boleh, sesekali bisakah kami numpak kapal perang angkatan laut?”, tanyanya dengan logat kental Indramayu. Tak pelak pertanyaan ini menimbulkan suasana semakin akrab pada malam itu.
Perlu diketahui bahwa Eka Santosa yang dikenal luas selain sebagai politisi, juga sebagai pejuang lingkungan – salah satu kiprahnya yang berhubungan dengan lingkungan hidup adalah menghutankan kembali area yang gundul maupun penanaman mangrove (bakau) di sepanjang pesisir pantai NKRI, juga amat peduli pada peningkatan kesejahteraan nelayan di negara kita.
“Bila tak ada aral melintang, saya akan berupaya mengarah untuk memimpin HNSI (Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia). Sinyal kuat berupa dukungan dari berbagai daerah di pelosok negeri, sudah mulai tampak jelas sejak beberapa waktu. Bila negara membutuhkan, saya siap untuk berbakti demi meningkatkan kesejahteraan nelayan yang selama ini kerap terpuruk”.
Diketahui secara luas, Eka Santosa pun sejak 1982 sudah saling mengenal mengenal perihal sosok Menteri KKP, Susi Pudjiastuti.”Banyak hal yang sejak lama kami impikan tentang kemaritiman kita. Sementara Susi melalui armada udara swasta yang ia bangun, semuanya itu jelas-jelas demi kejayaan maritim awal- akhirnya”, ujar Eka usai bertemu dengan Ade Supandi yang diketahuinya sebagai salah satu penentu atau mitra dalam membasmi illegal fishing yang kini sedang didengung-dengungkan operasinya oleh menteri KKP, Susi Pudjiastuti.
Tokoh adat dari BOMA Jabar yang turut hadir pada malam itu, antara lain; Bah Uluk, Terua Adat dari Kampung Dukuh, Cikelet Kabupaten Garut. Bah Uluk menyatakan, ”Pertemuan ini amat penting bagi kami. Sebagian daerah kami berhubungan dengan pesisir pantai selatan. Kami tahu pula, ada tambang pasir besi di pantai selatan Jabar. Potensi tambang ini, janganlah kita habiskan saat ini. Dampak tambang psir besi amat memprihatinkan secara sosial, maupun fisik di lapangan. Moga-moga Kang Ade ikut mengawasinya”. 
Hadir pula Bah Karma, Tetua Kampung Adat Kuta, “KSAL Kang Ade, ini mengingatkan kami pada Laksamana R.E Martadinata (1959 – 1966, red), ini KSAL kedua dari warga tatar Sunda. Bagusnya, peristiwa ini bisa lebih memacu generasi muda di Jabar lebih beprestasi”. [Harri Safiari]

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*

%d blogger menyukai ini: