klik soreang 11/01/2015

“Kembalilah ke Anjing Ras Kampung …”

Bertempat di Kampung Pabuaran Desa Jatihurip Kabupaten Sumedang, Sabtu, 10 Januari 2015 telah digelar Kontes Ketangkasan Anjing Pemburu 2015. Kontes ini memperebutkan sejumlah hadiah (domba dan trophy) dari Kartika team SSC (Satuan Satwa CADAS) Cup. Penyelengaraan kontes kali ini diikuti total anjing ras kampung 70 ekor. Yang dinilai dalam kontes ini adalah kecepatan dan ketepatan anjing kampung saat berburu hama babi hutan (bagong – Bhs. Sunda).

Sponsor utama kontes kali ini dikenal dengan nama H Emo, seorang pengusaha di Kabupaten Sumedang yang juga pehobi berat pecinta kuda di Jawa Barat. “Prihatin saja dengan banyak orang yang hanya bangga pada anjing ras luar negeri. Ternyata anjing kampung kita juga punya pesona khas. Mereka sudah ratusan tahun akrab dengan nenek moyang kita. Ini asset budaya yang patut kita lestarikan juga. Perlahan-lahan kita bangun lagi kebanggaan ini”.

Demi menggairahkan acara kontes kali ini, H Emo tak tanggung-tanggung meramaikan perhelatan ini menanggap pintonan nayaga (live) seni tradisional Sunda. Tiga pesinden dan beberapa pemain pencak silat pun dihadirkan. ”Rame-lah, ngadu bangong ayeuna mah aya seni kendang pencak sagala”, kata Unen (53), warga Pabuaran, Kabupaten Sumedang yang turut “ngengklak” disela-sela adu bagong yang diramaikan gonggongan anjing kampung yang juga selama ini banyak dilupakan orang.

Kita ketahui bersama, sehari-hari anjing kampung ini di pelosok Jawa Barat khususnya, dikenal sebagai “sahabat setia petani”. Rata-rata anjing kampung yang ikut pada kontes ketangkasan kali ini dipelihara oleh sekurangnya sebelas komunitas petani pemburu hama babi hutan (bagong) di Jawa Barat.

“Hanya minus pesertanya dari Jabar bagian Barat seperti Bogor, Karawang, Bekasi, dan Sukabumi. Mereka belum sempat hadir saja. Mayoritas peserta kontes kali ini berasal dari Priangan Timur”, kata Iwan dan Kimsuy, panitia di bagian pendaftaran.

“Tujuan kontes ini, selain sebagai ajang silaturahmi petani pemburu babi hutan, juga untuk melestarikan keberadaan anjing ras kampung di Jawa Barat yang mau punah. Mereka terdesak anjing ras asal luar negeri”, kata Nurhadi, Ketua Pelaksana.

Menurut Surapati, salah satu panitia penyelenggara:”Kontes rintisan kali ini bila sukses, rencananya akan digelar setiap 3 bulan sekali per regional di Jawa Barat. Puncaknya, pada setiap akhir tahun akan dilakukan semacam perang bintang. Akhirnya, kita dapatkan nanti anjing kampung unggulan”.

Khusus kontes kali ini (10/1/2014), panitia pada bagian seleksi secara ketat berhasil meloloskan 22 ekor anjing. Anjing kampung peserta kontes ini terbagi atas kelas slayangan 11 ekor, dan kelas kampung 10 ekor.

Menurut pantia, yang dimaksud kelas slayangan adalah campuran ¾ anjing ras asli Indonesia/kampung dengan ras luar seperti herder atau pittbul. Untuk kontes kelas slayangan ini babi hutan dihadapkan dengan 2 ekor anjing yang lolos seleksi. Sedangkan untuk kelas ras asli Indonesia atau anjing kampung, babi hutan dihadapkan dengan 4 ekor anjing yang lolos seleksi.

“Ini bedanya dengan kecenderungan kontes anjing dan babi hutan, satu atau dua dekade terakhir di Jabar. Biasanya, kan satu anjing ras pitbull asal luar negeri diadu sama bagong satu lawan satu. Itu jauh dari kebiasaan kakek-buyut kita. Dulu itu bagong satu lawan tiga atau empat anjing kampung, seperti sekaang inilah …”, tambah Nurhadi yang kaget atas antusias tinggi para peserta dan ribuan penonton kali ini di Pabuaran Kabupaten Sumedang.

Menurut Bah Entang yang akrab disapa Pak Guru, asal Majalaya Kabupaten Bandung yang dalam kontes ini berperan sebagai juri, menyatakan:”Ada rasa seni dan keasyikan tersendiri memelihara anjing ras kampung. Ia jauh lebih ramah pada lingkungan, merekalah sahabat sejati para petani untuk mengusir hama bagong”.

Menurut Deden (45) penduduk asal Pabuaran Sumedang:”Anjing kampung mah bisa diajak dialog pake bahasa Sunda da ngartieun meureun. Coba saja simak dongeng Sangkuriang yang ada Si Tumang. Lagian makanannya tak susah-susah banget-lah. Henteu legeg, mau makan singkong juga”.

Kembalinya para petani di jabar memelihara anjing ras kampung, merupakan angin segar.”Selama ini anjing kita justru banyak dibeli orang-orang dari luar pulau Jawa, terutama Sumatera Barat. Anjing kita justru ditelantarkan, anjing ras asal Eropa dan Amerika banyak dipelihara. Kita gairahkan lagi pelihara anjing lokal. Melestarikan kearifan lokal atuh”, kata Cawang asal Garut, salah satu juri pada kontes kali ini.

Uniknya, pada kontes kali ini banyak peserta yang berusaha mengecoh panitia bagian seleksi, pemiliknya mengaku anjing slayangan-nya sebagai anjing kampung. “Kami harus jeli disini. Bagi awam mungkin agak susah. Kami mengetahuinya sekilas saja dari tampilan, bentuk rahang, hingga cara menggonggong”, kata Delia, asal Garut yang tercatat sebagai juri wanita termuda berusia 17 tahun. “Tak ada yang komplen bila kami bertiga dari juri menyatakan ini anjing kampung atau slayangan, bahkan bila tak lolos sekali pun”.

Pemenang Hadiah

Puncak acara yang ditunggu-tunggu oleh ratusan pemilik anjing kampung dan slayangan dari pelosok Jawa Barat kampung pada sore (10/1/2014), akhirnya tiba. Penonton dan pemilik anjing sempat “ngengklak” bersam diringi nayaga dengan tembang lagu buhun dan pop Sunda sekali pun. “Wah ini mah tambah reueus bae ka jaman baheula …”, seru Ayung yang hanyut dengan tepak tilu bertalu-talu.

Ini dia para pemenang berikut hadiah yang mereka terima: Kelas Slayang untuk Juara 1 digondol Kartika (Sumedang), dengan nama anjing Miras dan Wakwaw. Juara 2 digondol Ayi (Sumedang), dengan nama anjing Inay dan Jass. Sedangkan kelas Kampung untuk juara 1 direbut Dik Dik (CADAS – Bandung), dengan nama anjing Bajing, Pitung, Jepri, dan Gehu. Juara 2 direbut Kartika (Sumedang), dengan nama anjing Bule, Macan, Mercy, dan Jeger.

Masing-masing juara 1 dari setiap kelas (slayangan dan kampung) berhak memperoleh seekor kambing. Sedangkan juara 2 memperoleh trophy. “Duh asa kumaha bingahna, kenging juara kahiji kelas anjing kampung”, tutur Dik Dik warga Bojong Koneng Kota Bandung pemilik anjing bernama Gehu yang selama ini rajin ikut membasmi hama babi hutan di kalangan petani Jabar Selatan.

Pemilik anjing Endang dan Dedi, masing-masing dari Tasikmalaya dan Garut yang kali ini belum beruntung memperoleh juara, tak merasa menyesal ikut kontes kali ini.”Yang penting mah, silaturahmi sama sodara-sodara, sesama pemburu hama petani, babi hutan, bisa ngengklak. Lain kali mah mau ikut lagi. Katanya tiga bulan lagi bakal ada ya?”.[naskah – Harri Safiari (085721273388), foto: Shahadat Akbar]

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*

%d blogger menyukai ini: