klik soreang 09/04/2015
Lelaki tuna netra itu menundukan kepala, seolah ia dapat melihat langkah – langkah pion catur yang dilangkahkan lawan mainnya. Padahal ia mendeteksi langkah-langkah lawannya dari rabaan telapak tangannya. Namun akurasi rabaannya takkalah dengan lawannya yang tidak tuna netra. Dialah pecatur tuna netra Dedi Hertanto. Dalam sehari main di Floating Market lembang (FML) ia berhasil memainkan 9 games, dan hanya sekali kalah, itupun game terakhir yang ia mainkan, mungkin sudah kelelahan.
Pecatur tuna netra Dedi-Hertanto tengah mengatur strategi mengalahkan lawannya.
Pecatur tuna netra Dedi-Hertanto tengah mengatur strategi mengalahkan lawannya.
Itulah sebagian cuplikan dari arena ‘Rumah Wisata Catur’ yang ada di FML. Setiap hari minggu, di FML, tepatnya di Joglo Jayagiri digelar arena permainan catur. Siapa saja pengunjung FML bisa bermain catur disana. Bisa melawan teman sendiri yang kebetulan datang bersama ke FML, atau menantang bintang-bintang tamu yang disediakan FML sebagai lawan yang siap melawan siapa saja. Dan tidak dikenakan biaya alias gratis.
Beberapa bintang tamunya yang didatangkan setiap hari Minggu adalah maste-master Pordasi Jawa Barat, salah satunya master tunanetra yang banyak mendapat sambutan pengunjung FML. Pengunjung berkerumun melihat cara Dedi Hertanto memainkan catur, yang dianggap unik dan hebat buat orang yang memilki mata normal.
‘Rumah Wisata Catur’ sendiri dibuka sejak tanggal 1 Maret 2015. Acara ini rutin digelar setiap hari Minggu mulai pukul 10 sampai pukul 4 sore. Tempat arenanya nyaman, sebuah joglo yang menghadap ke danau, sehingga para pecatur sambil main catur sesekali bisa melirik keindahan danau.
Di ‘Rumah Wisata Catur’ ini telah disedaiakan papan catur, para tamu tinggal main. Tak hanya pecatur lokal yang ikutan main, tapi juga ada dari Belgia, Malaysia, wanita berhijab. Bisa main sambil menyeruput kopi. Dan tak akan kehujanan.
Wisatawan asing tengah serius bertanding dengan pengunjung lain di FLM
Wisatawan asing tengah serius bertanding dengan pengunjung lain di FLM
Dahlan Effendi, koordinator di ‘Rumah Wisata Catur’ yang juga aktifis dari Percasi Jawa Barat mengatakan, ‘Rumah Wisata Catur’ ini merupakan peningkatan kembali sosialiasi olahraga catur di Bandung dan sekitarnya. “Memasyarakatkan bisa dimana saja. Di termpat wisata juga bisa. Buktinya peminatnya banyak. Kalah menang dalam bermain takpenting,” ujar Dahlan.
Yang datang ke ‘Rumah Wisata Catur’ adalah pengunjung yang datang ke FML bersama keluarganya, atau komunitasnya. Namun setelah mengetahui ada ‘Rumah Wisata Catur’ sang peminat catur meminta kepada keluarganya untuk meluangkan waktu main catur. Sementara keluarganya berkeliling memutari keindahan FML. 
Pecatur perempuan takmau kalah dengan pecatur laki-laki di FLM Lembang.
Pecatur perempuan takmau kalah dengan pecatur laki-laki di FLM Lembang.
Seorang anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) begitu melihat ‘Rumah Wisata Catur’ langsung menantang ayahnya main catur. Dan, keluarganya meninggalkannya untuk berkeliling FML, sementara anak dan bapak ini bertarung diatas papa catur, dan sang bapak kalah dalam sebuah permainan satu game.
Ada juga seorang pengunjung FML yang meminta izin untuk menjadikan ‘Rumah Wisata Catur’ sebagai arena perlombaan di RT dan RW nya di waktu mendatang, dan dipersilahkan oleh pengelola ‘Rumah Wisata Catur’, dengan catatan soal hadiah harus disediakan sendiri, tanpa melibatkan ‘Rumah Wisata Catur’. ‘Rumah Wisata Catur’ hanya memfasilitasi tempat.
Floating Market Lembang sendiri merupakan tujuan wisata seluas 7,2 Ha. Di sana dapat ditemui perahu-perahu yang menjual makanan Nusantara diatas sampan. Juga ada Miniatur Kereta Api terbesar di dunia, ada Taman Angsa, Taman kelinci, dan banyak permainan lain. Tiket masuknya hanya Rp. 15 ribu, itupun dapat ditukar dengan minuman ringan. Buka setiap hari alias takada liburnya. []

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*

%d blogger menyukai ini: