klik soreang 05/05/2015
Tepat pukul 24.00 WIB menjelang beberapa menit ke hari Minggu, 3 Mei 2015 rangkaian acara Festival Budaya Masyarakat Adat (FBMA) Jabar, yang mentas sejak pukul 09.00 WIB Sabtu, 2 Mei 2015, berakhir pada pukul 24.00 WIB. Resminya ia diutup oleh pentas khas Bajidoran Mandiri Jaya dari Kabupaten Karawang. Sinden Bajidor Mamah Desi, Mamah Eneng Namin, Mamah Nani, dan enam penari lainnya bersama ratusan penonton kompak mendendangkan bait lagu “Gelang Sipatu Gelang” – tanda usai pagelaran. 
Guruh Sukarno Putra Hadir di Perhelatan Festival Budaya Masyarakat Adat (FBMA) Jabar
Guruh Sukarno Putra Hadir di Perhelatan Festival Budaya Masyarakat Adat (FBMA) Jabar

“Hebat diantara festival budaya yang bernuansa tradisi se Indonesia, yang biasa aku kunjungi. Ini paling spektakuler”, ujar Husni, fotografer asal Papua. Husni sedari pagi hingga menjelang dini hari mengabadikan ribuan momen ini secara cermat melalui kameranya bersama tiga kawannya. Aneh tapi, kenapa Pak Gubernur Jabar tak hadir ya? Padahal Aku rasa ini acara besar pentas budaya di provinsi ini”, lagi tanya Husni yang diiyakan rekan seiringnya.


Faktanya, seharian (2/5/2015) ribuan penduduk di sekitar Kawasan Alam Santosa, di Pasir Impun Kabupaten Bandung, bergembira-ria. Saat itu meeka bertindak selaku “tuan rumah” dari FBMA ke-2 Jabar. Daerahnya di Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung, semakin sohor setelah puluhan tahun lalu terkenal sebagai penghasil batu templek. Ya, batu templek dengan nama khusus batu Ganefo, pada 1962 adalah bahan utama pembangunan Stadion Gelora Bung Karno.

Kali ini warga Pasir Impun yang akomodatif berkolaborasi bersama ratusan warga utusan 23 Kampung Adat yang tergabung pada BOMA (Baresan Olot Masyarakat Adat) Jabar, menjadi tuan rumah dan mementaskan seni budaya plus keanekaragaman kuliner mereka. Dampaknya, decak kagum dari tokoh nasional mereka perolah.”Apresiasi tinggi saya sampaikan atas pagelaran ini. Akar budaya kita, nyata-nyata dilestarikan dan telah dikembangkan dengan baik. Patut jadi contoh daerah lain di Nusantara”, kata Guruh Soekarno Putra, yang dalam pagelaran ini dianugrahi BOMA Jabar sebagai Pangagung Terah Sang Fajar.

Unikya pada festival kali ini, ada pengunjung khusus – 500 mahasiswa dari 48 negara Asia Afrika. Mereka hadir, usai melakukan Konperensi Mahasiswa Asia Afrika (28/4 – 1/5/2015), di Gedung Merdeka Bandung. Kehadiran mereka, masih dalam kaitan Peringatan 60 Tahun KAA 1955 di Bandung. “Seharusnya, acara ini jadi kebanggaan Bandung dan Jawa Barat. Gubernur Jabar sebaiknya hadir juga”, papar Rena (23).

Menurut penyelenggara, ada 34 relawan yang tergabung pada Sahabat Museum Konperensi Asia Afrika (SMKAA). Tugasnya, mereka membantu suksesnya FBMA ke-2 ini. Bahu membahu pula mereka bersama pengurus BOMA Jabar yang terdiri atas 62 relawan yang peduli terhadap masyarakat adat.”Kami persiapkan dengan matang acara ini. Terima kasih atas bantuan semua kalangan”, ujar Ozenk yang berperan sebagai Ketua Panitia FBMA ke-2.

LAPAS Sukamiskin & Marhaenisme

Sampai disini bisa ditebak, pastilah masih belum tahu dimana Pasir Impun tepatnya Kawasan Alam Santosa berada? Penyelengara FBMA ke-2, paling kerap menyebutnya, terutama bagi orang luar Bandung – Hanya, 3 km sebelah utara dari LAPAS Sukamiskin! Bila “nujum” ini disebutkan, siapa pun tahulah dimana itu. Ajaibnya, LAPAS Sukamiskin yang dahoeloe disebut Straft Gevangenis Voor Intelectuelen (penjara untuk kaum intelektual pribumi maupun Eropa), ampuh membimbing sesiapa yang ingin menujunya.

Sejenak mengupas secuil tentang LAPAS Sukamiskin pada 1930, ini tempat Ir Soekarno, Presiden RI pernah mendekam pada 1930-an. Kaitannya dengan penyelengaraan FBMA ke-2, apa? “Ide memerdekakan Nusantara dari kolonialisme Belanda makin menggelegak. Salah satunya pemicunya, setelah berdialog intens dengan petani miskin Marhaen di Bandung Selatan. Soekarno muda begitu kagum akan kemandirian Marhaen yang hanya punya cangkul dan lahan sempit untuk bertani. Entah kebetulan atau tidak, LAPAS ini tiap kali saya lewati, mengingatkan pada Marhaenisme yang masih relevan disandingkan dengan terwujudnya KAA 1955. Membebaskan semua bangsa Asia Afrika dari penjajahan!”, urai Eka Santosa, Pangaping BOMA Jabar, selaku pemilik Kawasan Alam Santosa.

Lebatnya hutan dan kehijauan di Kawasan Alam Santosa yang luasnya sekitar 4,5 ha, bukti tak terbantahkan reboisasi di daerah gersang, 14 tahun lalu dianggap berhasil. “Dulu tempat ini gundul. Saya tahu persis, berkat Pak Eka dan warga adat dibantu penduduk setempat, kini hijau kembali. Mata airnya hidup lagi, kini dipakai lebih dari 400 KK”, kata Agus Warsito, sahabat Eka yang ikut mempersiapkan perhelatan ini.

Kata banyak orang, karya Eka dalam hal rehabilitasi lingkungan, lebih membumi dibandingkan dengan banyak penjabat yang hanya bisa menghimbau, namun buruk dalam implementasi lapangannya.”Ini mah nyata atuh. Reboisasi dilakukan mandiri seperti Marhaen”, ucap Irham, penduduk Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung yang secara sukaela membantu perhelatan ini. “Sayang ya, Pak Gubernur tidak hadir, kalau yang tahun 2012 mah Dia hadir”.

Eka kala dikonfirmasi, tentang ketidakhadiran Gubernur Jabar, malah berbicara lebih jauh:”Waktu saya utarakan niat ini ke Deddy Mizwar (Wagun Jabar – red). Penyebabnya, acara ini dihadiri 500 mahasiswa peserta Kongres KAA asal benua Asia dan Afrika, ini kan kehormatan bagi Jabar. Belum apa-apa Ia merujuk ke kasus Ridwan Kamil yang direct soal KAA ke 60 ke Presiden Jokowi. Langsung saja Kang ke Presiden …”, kata Eka dengan nada agak meninggi sambil menirukan perkataan Demiz kepada dirinya beberapa hari sebelum acara ini digelar.

Lebih lanjut menurut Eka, seakan mengulang pernyataannya pada 30 April 2015 dihadapan puluhan awak media, kali ini ia memperkuat :”Walau prihatin dengan tiadanya bantuan dari Pemprov Jabar. Secara gotong royong acara ini kami gelar seadanya. Bersyukur bantuan spontan dari pihak yang peduli pada masyarakat adat, datang pada menit-menit terakhir. Apresiasi tinggi ke Dadang Nasser (Bupati Kab. Bandung – red). Hari-hari terakhir kondisi jalan ke Pasir Impun diperbaiki, walaupun yang bagian Kota Bandung di bawahnya masih benjol-benjol”.

Guruh Sukarno Putra Hadir di Perhelatan Festival Budaya Masyarakat Adat (FBMA) Jabar

Bukan tanpa alasan jelas Eka secara piawai menyandingkan tema besar FBMA ke-2 ini berupa “Kembali ke Akar Budaya Bangsa, melalui Apresiasi Kearifan Lokal Masyarakat Adat”, mengundang keturunan langsung Ir. Soekarno, Mohammad Guruh Irianto Soekarno Putra. Uniknya tokoh nasional ini oleh Eka, kali ini disandingkan dengan tokoh nasional lainnya seperti Jan Darmadi, Anggota Wantimpres; Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, dan Kapolda Jabar, Irjen Pol DR Mochammad Iriawan, SE SH MM; yang khusus pula hadir Didier Carre, warga Perancis yang ditahbiskan sebagai Duta Masyarakat Adat Jabar di Perancis dan Eropa.

Kepada undangan khusus tokoh nasional BOMA Jabar, kali ini menganugrahkan gelar. Kepada Guruh Sukarno Putra dianugrahkan gelar sebagai Pangagung Terah Sang Fajar; Jan Darmadi sebagai Lanang Jembar Panalar; Siti Nurbaya sebagai Raksa Wana Hayati; dan M Iriawan sebagai Lanang Raksa Buana.

Turut memberikan nuansa internasional dari perhelatan ini yang oleh kalangan masyarakat adat disebut Pinton Ajen Karancagean sebagai padanan dari FBMA:”Kehadiran mereka tak begitu saja. Ada pesan khusus yang harus dibawa ke negaranya. Warga adat yang tergabung pada BOMA Jabar, sudah sejak dulu merawat alam dengan bijak. Inilah yang kami pintonkan”, kata Ate, yang kebagian tugas sebagai pengarah acara FBMA ke-2.

Kekhidmatan dan kemeriahan acara ini terasa begitu memukau, sehingga stasiun Metro TV menayangkannya secara live dalam beberapa segmen.”Tradisi warga adat Jabar menjaga kelestarian ekosistem secara alami, yang kini jadi trend dunia, patut diketahui orang. Kami bantu menyebarkannya”, papar Teh Funny, Pengarah Acara FBMA ke-2. Teh Funny selama pagelaran kerap berdampingan dengan duo MC kondang George Irvan dan Renny. “Berkat panduan jelas aku jadi tahu makna satu bagian acara ke bagian lainnya. Benang merahnya, kerasa. Kita harus hidup selaras dengan alam”, pendapat Yani (22), relawan SMKAA. (HS/dtn)

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*

%d blogger menyukai ini: