admin 10/11/2017

Kemampuan Wirausaha Unik Sukanto Tanoto — Tahun 2017 merupakan momen spesial bagi pengusaha Sukanto Tanoto. Saat ini, Royal Golden Eagle (RGE) yang didirikannya memasuki tahun ke-50 dalam operasi bisnisnya. Ini memperlihatkan dengan nyata kemampuan berwirausaha Sukanto Tanoto yang spesial.

Sukanto Tanoto kini bertindak sebagai chairman Royal Golden Eagle. Ia mendirikan korporasi kelas dunia tersebut pada 1973 dengan nama awal Raja Garuda Mas.

Saat itu, Sukanto Tanoto memulainya dari nol. Namun, Royal Golden Eagle kini sudah berkembang pesat. Dari perusahaan skala lokal pada mulanya, Sukanto Tanoto berhasil mengembangkannya menjadi korporasi berskala internasional.

Tengok saja skala bisnis Royal Golden Eagle. Saat ini perusahaan tersebut ditaksir memiliki aset senilai 18 miliar dollar Amerika Serikat. Mereka pun memiliki karyawan sebanyak 60 ribu orang di berbagai penjuru dunia. Sukanto Tanoto berhasil melebarkan sayap RGE hingga Tiongkok, Singapura, Brasil, Kanada, Malaysia, dan Filipina.

“Saya memulainya dari nol, benar-benar dari dasar. Saya tidak pernah menyangka akan memiliki bisnis berskala global seperti ini. Namun, saya memang selalu bermimpi untuk meraih sesuatu dan bermimpi yang lebih besar dan lebih besar lagi,” ujar Sukanto Tanoto di Globe Asia.

Kesuksesan yang diraihnya di Royal Golden Eagle tentu tidak hadir begitu saja. Sukanto Tanoto memang memiliki kemampuan berwirausaha yang unik. Hal inilah yang menjadi bekal baginya untuk mengembangkan perusahaannya.

Kemampuan Wirausaha Unik Sukanto Tanoto

Sukanto Tanoto beruntung memiliki intuisi yang tajam. Sebagai seorang pebisnis, ia piawai mengendus peluang. Bahkan, pria kelahiran Belawan ini selalu mampu berpikir jauh ke depan, melebihi orang kebanyakan.

Kemampuan itu terlihat sejak Sukanto Tanoto mulai menekuni dunia bisnis pada masa muda. Salah satunya saat ia merintis bisnis kayu lapis sebelum mendirikan RGE.

Pada era 1970-an, Sukanto Tanoto melihat ada yang janggal di Indonesia. Ia tahu orang di negeri kita kesulitan mencari kayu lapis. Sukanto Tanoto merasa hal tersebut aneh sekali. Pasalnya, dengan kesuburan tanah yang dimiliki dan iklim tropis, kondisi Indonesia sangat baik untuk menumbuhkan pepohonan sebagai bahan baku kayu lapis.

“Negara kita kaya kayu, mengapa kita harus impor kayu?” begitu pemikiran Sukanto Tanoto.

Rasa gusar itu akhirnya mendorong Sukanto Tanoto untuk mendirikan perusahaan kayu lapis pada 1972. Langkah itu terbilang berani. Sebab, belum ada pihak lain di Indonesia yang berani melakukannya.

Namun, inilah letak kejelian beriwirausaha Sukanto Tanoto. Pengusaha yang lahir pada 25 Desember 1948 ini selalu mampu berpikir satu dua langkah di depan orang lain. Ia seperti tahu bahwa ada lahan bisnis menggiurkan ketika pihak lain belum mampu melihatnya.

Terbukti nyata bahwa perusahaan kayu lapis yang didirikannya meraih kesuksesan. Selain memenuhi kebutuhan dalam negeri, kayu lapis buatan perusahaan Sukanto Tanoto dapat diekspor ke berbagai penjuru dunia. Secara khusus, Sukanto Tanoto mengirimkan produk-produknya ke Eropa dan Timur Tengah.

Sukses di bidang kayu lapis tidak membuat Sukanto Tanoto berpuas diri. Justru inilah awal kehadiran Royal Golden Eagle yang berhasil membesarkannya menjadi seorang pebisnis andal. Lagi-lagi itu dimulai dari pengamatan bisnis yang jeli oleh Sukanto Tanoto.

Saat itu, Sukanto Tanoto sempat berpergian ke Malaysia. Di sana ia melihat banyak sekali perkebunan kelapa sawit yang didirikan. Ia pun mencari tahu lebih dalam tentang industrinya. Hal itu yang akhirnya membuat hati Sukanto Tanoto tergerak untuk mendirikan bisnis serupa di Indonesia.

Mengapa bisa seperti itu? Pemikiran bisnis Sukanto Tanoto segera berhitung. Ia tahu persis kondisi alam Indonesia dan Malaysia nyaris sama persis. Maka, seharusnya di Indonesia juga mudah ditanami kelapa sawit.

Sukanto Tanoto akhirnya membayangkan peluang bisnis yang akan diterjuninya. Ia menghitung jumlah penduduk Indonesia jauh lebih banyak dibandingkan dengan Malaysia. Logika sederhana, peluang pasar kelapa sawit di negeri kita akan lebih besar.

Dengan ketetapan hati, pada 1973, Sukanto Tanoto memulai bisnis kelapa sawit. Ia mendirikan perkebunan dan menanaminya dengan kelapa sawit. Selain itu, Sukanto Tanoto juga membuat pabrik pengolahannya. Langkah Sukanto Tanoto tersebut menandai kehadiran Royal Golden Eagle. Ia mendirikannya sebagai induk usaha yang ditekuninya tersebut.

Kemampuan Wirausaha Unik Sukanto Tanoto

Namun, bagi banyak orang, putusan Sukanto Tanoto dianggap janggal. Pasalnya, belum ada yang menekuni industri kelapa sawit di Indonesia. Apalagi, bisnis ini butuh kesabaran. Pebisnis mesti mau menunggu bibit kelapa sawit yang ditanam selama tiga atau lima tahun terlebih dulu sebelum siap dipanen.

Akan tetapi, Sukanto Tanoto tetap kukuh pada pendiriannya. Belakangan itu terbukti sukses. Industri kelapa sawit yang diterjuninya berhasil membesarkan RGE sehingga akhirnya banyak pihak yang mengikuti jejaknya.

“Saya itu pionir. Strategi kompetisi saya adalah selalu berada satu atau dua langkah di depan yang lain,” ujar Sukanto Tanoto.

Melebarkan Bidang Bisnis RGE

Lepas dari kejeliannya merintis industri kelapa sawit di Indonesia, Sukanto Tanoto belum mau berpuas diri. Ia selalu berusaha mencari beragam peluang lain yang belum digarap oleh orang. Salah satu buahnya adalah pelebaran bidang bisnis Royal Golden Eagle.

Saat ini, Royal Golden Eagle menekuni beragam industri berbeda. Mereka memiliki anak perusahaan yang bergerak dalam bidang kelapa sawit, yakni Asian Agri dan Apical. Namun, mereka juga punya APRIL dan Asia Symbol yang berkecimpung dalam industri pulp and paper. Semua itu masih ditambah dengan Bracell (selulosa spesial), Sateri (viscose fibre), dan Pacific Oil & Gas (energi).

Kesuksesan Sukanto Tanoto dalam melebarkan bidang bisnis Royal Golden Eagle memperlihatkan kejeliannya. Lihat saja awal mula keputusannya dalam menerjuni industri pulp and paper. Saat itu Sukanto Tanoto berpergian ke Finlandia. Di sana ia kaget melihat industri pulp and paper berkembang pesat. Padahal, untuk menumbuhkan pohon sebagai bahan baku, butuh waktu puluhan tahun sebelum bisa dipanen.

Sukanto Tanoto segera mencari tahu lebih dalam tentang seluk beluk bisnis pulp and paper. Ia sadar bahwa Indonesia memiliki keuntungan spesial. Negara kita terletak di kawasan tropis dengan matahari bersinar sepanjang tahun. Akibatnya amat mudah untuk menumbuhkan pohon.

Hal itu memang terbukti nyata. Untuk menumbuhkan pohon akasia yang menjadi bahan baku pulp and paper, hanya perlu waktu lima hingga enam tahun sebelum dapat dipanen. Jauh lebih singkat dibanding masa puluhan tahun yang diperlukan Finlandia untuk menumbuhkannya.

Tanpa ragu, Sukanto Tanoto segera mendirikan perusahaan pulp and paper. Ia juga pergi ke Brasil untuk mempelajari industri tersebut. Negeri Samba dipilih karena selain punya kemampuan apik dalam bidang pulp dan kertas, negara ini juga memiliki iklim yang sama.

“Jadi, saya berpikir saya mampu melakukannya. Butuh waktu enam tahun sebelum kami bisa kompetitif di pasar internasional. Saya pergi ke Brasil karena mereka mampu menumbuhkan pohon dengan baik dan memiliki kemampuan pemanfaatan pulp spesial,” ujar Sukanto Tanoto.

Akhirnya pilihan Sukanto Tanoto terbukti jitu. Ia berhasil mengembang industri pulp and paper dengan baik. Ini semakin memperlihatkan kejeliannya dalam berwirausaha. Sukanto Tanoto punya pengamatan dan penciuman yang tajam terkait bidang bisnis yang menguntungkan. [w2/11-pbn]

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*

%d blogger menyukai ini: