5 Solusi Mengeluarkan Air yang Masuk ke Telinga

Jangan sembarangan mengorek-ngorek telinga, justru itu merupakan tindakan yang membahayakan sebab kulit telinga sangat sensitif, sehingga tidak dianjurkan untuk mengoreknya secara rutin.

Bila terus-menerus mengorek-ngorek telinga bisa mengakibatkan iritasi dan yang lebih parahnya lagi, bisa merusak gendang telinga.

Umum terjadi di masyarakat, membersihkan telinga sudah menjadi bagian ritual membersihkan badan, sama halnya dengan menyikat gigi atau mencuci muka. 

Padahal, telinga merupakan bagian yang takperlu dibersihkan secara kontinyu atau setiap hari. Alasannya, telinga yang sehat tidak akan menyebabkan keluhan apapun termasuk keluhan gatal.

Menurut seorang dokter ahli THT, Prof. Zainal A Djaafar, Sp. THT-KL dari rumah sakit THT Jakarta, menjelaskan, “Secara anatomi telinga manusia memiliki proteksi sendiri. Maka ketika seseorang mengalami keluhan dan terasa ingin dibersihkan pasti ada sesuatu.”

Sehingga seseorang lebih mengambil tindakan dengan mengorek-ngorek telinganya dengan maksud untuk membersihkan atau menggaruk bagian yang terasa gatal dari dalam telinga dengan menggunakan cotton bud. 

Penggunaan cotton bud atau korek kuping sebetulnya hanya diperlukan untuk membersihkan atau mengeringkan sisa air yang memungkinkan untuk masuk ke dalam telinga di saat mandi. 
Adapun serumen atau kotoran telinga yang berwarna kuning takperlu dibersihkan, karena berfungsi untuk melindungi telinga dari masuknya kotoran, debu atau binatang. 
Kalaupun terjadi kurang pendengaran yang disebabkan oleh serumen yang mengeras sehingga mengurangi pendengaran dan juga menyebabkan telinga menjadi gatal langkah yang harus ditempuh sebaiknya periksakan ke dokter THT saja jangan pernah ambil resiko.

Dalam sebuah penelitian yang sudah dilakukan oleh Henry Ford Hospital menyebutkan penggunaan korek kuping atau cotton bud beresiko merusak bagian dalam telinga, namun bukan berarti kita dilarang untuk menggunakan cotton bud. 

Selama kita mematuhi aturan penggunaannya, tidak apa-apa membersihkan kuping dengan cotton bud. Dalam peringatannya, biasanya tertera di kemasan korek kuping, “Gunakanlah cotton bud ini dengan memutar dengan lembut di bagian luar liang telinga saja tanpa harus masuk ke dalamnya.”

Peringatan penggunaan cotton bud tersebut di atas sebaiknya jangan diabaikan. Selain cotton bud, benda lain yang juga sering dimanfaatkan oleh seseorang saat membersihkan telinga hingga ke liang bagian dalam adalah menggunakan peniti (tepatnya bagian lingkaran dari peniti) atau kapas yang ditempelkan pada ujung korek api. 

Bila terus-menerus membersihkan telinga dengan beberapa media tersebut, bisa berpotensi terjadi gangguan pendengaran, serumin akan terjepit dan yang lebih buruknya lagi pecahnya gendang telinga yang pada akhirnya terjadi tuli secara permanen.

Lantas bagaimana dong kalau telinga kemasukan air saat mandi atau berenang? Padahal sama-sama kita ketahui bila dibiarkan, air yang masuk ke dalam telinga akan mengganggu pendengaran bahkan sering menimbulkan rasa sakit. 

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, pembaca bisa memperhatikan uraian artikel kesehatan 5 Solusi Mengeluarkan Air yang Masuk ke Telinga berikut ini.
Ekstrak Bawang Putih. Caranya: pertama-tama Anda hancurkan satu siung bawang putih untuk diperoleh ekstraknya. Lalu selanjutnya, ambil sekira 2 – 3 tetes ekstrak bawang putih tersebut. Kemudian letakkan di telinga yang kemasukan air, tunggu saja 1 – 2 menit. Selanjutnya, ambil hair-dryer dengan jarak aman untuk mengeringkan telinga. Upaya ini bisa membantu meringakan rasa sakit serta kesemutan pada telinga.

5 Solusi Mengeluarkan Air yang Masuk ke Telinga

Menggunakan Garam. Masukkan 1/4 cangkir garam dan panasnya dalam microwave. Letakkan dalam kain katun dan kencangkan. Tempatkan kain tersebut dekat telinga yang terkena air selama beberapa menit.

Hair Dryer. Pegang pengering rambut sekitar 10 inci dari telinga dan aturlah panasnya dalam kecepatan rendah. Nyalakan hair dryer selama beberapa detik, lalu ulangi sesuai dengan kebutuhan.
Atur Tekanan Udara. Tutup mulut Anda dan tahan lubang hidung dengan menggunakan jari tangan. Ambil nafas dalam-dalam, lalu tiuplah udara melalui lubang hidung dengan lembut. Praktik ini akan membantu mengatur tekanan udara dan membuka tabung eustachio (bagian yang menghubungkan telinga tengah dengan bagian atas tenggorokan dan berperan penting saat mengangkat oksigen ke telinga tengah), sehingga mengurangi rasa kesemutan dari telinga.

5 Solusi Mengeluarkan Air yang Masuk ke Telinga

Miringkan Kepala. Miringkan kepala Anda sehingga telinga dalam posisi sejajar dengan lantai. Tangkupkan telapak tangan di atas telinga yang kemasukan air, lalu tekan selama beberapa detik.

Hal ini bisa menciptakan vakum sementara yang membantu mengeluarkan air. Baru setelah itu pergunakanlah cotton bud untuk membersihkan telinga dan memastikan semua air keluar. [|]

4 Jenis Makanan ‘Musuh’ Penderita Asma

Musuh. Terlalu kasar ya? Intinya, berikut ini 4 jenis makanan yang harus dihindari oleh penderita penyakit pernafasan alias asma. Penyakit asma merupakan penyakit gangguan pernafasan atau alergi besar yang diderita seseorang. Dari sekian faktor pemicu kambuhnya penyakit asma adalah makanan. Apa saja sih jenis makanan yang tidak boleh dinikmati oleh pengidap asma? Ini dia …

4 Jenis Makanan ‘Musuh’ Penderita Asma
  1. Cokelat. Meskipun menjadi makanan yang paling banyak disukai oleh masyarakat, akan tetapi penderita asma harus menghindarinya. Kenapa? Kandungan lemak dalam cokelat akan memicu kambuh penyakit asma.

    Apabila penderita asma ‘keukeuh’ ingin menikmati makanan cokelat, pilihlah pure dark chocolate, sebab cokelat ini terbilang memiliki kadar lemak yang rendah.

  2. Pepaya. Hati-hatilah dengan buah yang satu ini! Getahnya berpotensi membuat jalur pernafasan seseorang menjadi gatal.

    Bila orang tersebut menderita asma maka bisa membuatnya kambuh.

  3. Durian. Nah, buah yang satu ini sampai dengan saat ini terbilang sering dijajakan penjualnya di wilayah Soreang. Atau bagi Anda yang akan berwisata ke Ciwidey, akan melewati kedai Bajigur Durian Mang Asoy.

    Sayangnya, bagi penderita asma, dianjurkan untuk menghindari buah berduri yang wangi dan lezat ini, pasalnya kandungan gas yang terdapat di dalam durian akan mengganggu pernafasan dan memicu asma untuk kambuh.

  4. Makanan Bersantan. Semua jenis makanan bersantan harus dihindari oleh penderita penyakit asma sebab kandungan lemak jenuh dalam makanan ini akan membuat penderita asma kesulitan untuk bernafas.
Itulah sekilas informasi kesehatan yang bisa klik soreang sampaikan. Mudah-mudahan artikel kali ini bisa menambah wawasan pembaca khususnya bagi Anda atau kerabat, sanak famili dan tetangga yang menderita asma. 

Ar Razi Ilmuwan Muslim Penemu Penyakit Cacar Tahun 865

Hingga saat ini masih ada orang meragukan manfaat imunisasi, mempersoalkan imunisasi adalah program konspirasi Yahudi untuk merusak kesehatan generasi penerus Islam. Melansir informasi dari rubrik Healthy Care dari Inilah Koran, disebutkan bahwa,  IDAI atau Ikatan Dokter Anak Indonesia Pusat melalui sekretaris jenderalnya, dr Piprim Basarah Yanuarso SpA(K), menjelaskan, “Keyakinan imunisasi merupakan program konspirasi Yahudi tidak hanya terjadi di Indonesia, di luar (negeri-red)) pun sama.” 
Dari sini masyarakat harus bisa cemat dalam menyerap arus informasi khususnya tentang imunisasi, “Karena terkadang berita yang beredar merupakan hoax, sebatas praduga tanpa dasar kajian ilmiah,” tambah pendiri situs vaksinasi.net ini di gedung Serbaguna Bio Farma, Pasteur – Bandung.
Ar Razi Ilmuwan Muslim Penemu Penyakit Cacar Tahun 865
foto: Google

Pembuatan vaksin imunisasi terinspirasi dari ilmuwan muslim Ar Razi yang menemukan penyakit cacar pada tahun 865. Waktu itu Ar Razi berprofesi sebagai dokter utama di rumah sakit Baghdad, Iran. Baru pada 1789, imuwan Inggris Edward Jenner mengembangkan vaksin cacar serta mendaftarkan hak cipta vaksin atas namanya sendiri.

Vaksin imunisasi akhirnya dikembangkan melalui penelitian bertahun-tahun, hingga muncul program vaksinasi massal untuk menekan penyakit menular. Jadi memberikan vaksin pada anak-anak bukan membuat anak jatuh sakit. Pada 2007 pun sudah terbukti bahwa memberikan vaksin MMR (Mumps, Measles, Rubella) atau vaksin campak – tidak membuat anak menjadi autis seperti yang disangkakan oleh golongan tertentu.
DR Aam Amirudin dari Praktisi Komunikasi Yayasan Percikan Iman menyebutkan, “Takmudah mengubah keyakinan setiap orang yang menentang program imunisasi, pasalnya keyakinan seperti ini tidak mengedepankan aspek rasionalitas.”

Perlu Pendekatan Ideologi Agar Imunisasi Bisa Diterima

“Dokter, ahli imunologi, tenaga kesehatan yang bermaksud untuk sosialisasi manfaat vaksin akan ditentang meskipun sudah didasari oleh penjelasan logis dan ilmiah. Artinya, perlu pendekatan ideologi agar penjelasan tentang manfaat imunisasi bisa diterima oleh masyarakat, caranya dengan melibatkan para ulama untuk menjelaskan bahwa imunisasi itu baik. Sebab Allah Swt menyenangi umat yang sehat fisik, akal serta hatinya.” tegas DR Aam. 
Sumber: Inilah Koran.

Puyeng Hilang, Membaca Lancar

Bagi LSM CADAS dan RS Mata Cicendo, sejatinya tiada yang lebih menggembirakan kala mendengar telepon dari Pangandaran pada 18 September 2014 lalu. Kejadiannya, Juju kali ini minta di telepon balik seperti biasanya. Menurut Nurhadi, tepatnya pada 16 September 2014 Sarah telah diterima secara resmi oleh Plt Bupati Pangandaram di gedung Desa Cintaratu, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran.

“Pak Bupati memberikan kacamata buat sarah di gedung, disaksikan banyak orang katanya, kan saya mah tak bisa lihat. Sarah sekarang menulis sudah agak bagus di sekolah, itu kata Pak Ee gurunya. Tulisan Sarah tak besar-besar lagi. Puyengnya, mulai hilang. Katakan terima kasih atas kacamatanya ke Cicendo”, lagi-lagi Nurhadi menirukan suara Juju.

Menurut Nurhadi, kacamata kedua ini memang dikirim ke alamat Plt Bupati Pangandaran, bukan ke alamat rumah Sarah seperti biasanya. Tujuannya, agar keberadaan warganya yang memiliki keterbatasan semakin diketahui oleh pimpinan setempat. “Tercapailah salah satu tahapan buat Sarah Tsunami. Bila pun terjadi pergantian kepemimpinan di Kabupaten Pangandaran, kepedulian terhadap kalangan yang layak dibantu di daerah sana tetap berlangsung”, harap Nurhadi yang dalam waktu empat tahun terakhir telah memimpin ratusan mantan preman melalui LSM CADAS.

Sekedar info, LSM CADAS ini termasuk keukeuh dan independent memperjuangkan hak sipil dan lingkungan hidup dengan caranya sendiri. Harian KOMPAS yang telah mengupas sebagian kiprahnya, menyebut para pengurus dan anggota yang mayoritas mantan preman Cicadas Bandung sebagai sekumpulan preman babalik pikir!

Sarah Tsunami Puyeng Hilang Membaca Lancar

“Beginilah adanya, Sarah ini hanya sedikit yang bisa kami bantu sesuai kemampuan. Mendengar ia bisa kembali lancar membaca buku berkat pemeriksaan dan sumbangan kacamata dari Cicendo, itu sudah sangat menggembirakan”, ujar Nurhadi yang punya hobi memelihara burung berkicau.

“Sisa hidup kami hanya ingin diisi oleh kebaikan yang kami bisa dan mampu saja, walaupun hanya sekedarnya”, tutup Nurhadi yang diamini Nurharto, Ketua DPW LSM CADAS, rekan sejawatnya yang berprofesi sebagai pengacara di Bandung. (Harri Safiari)

Lika-liku Sarah Tsunami demi Kacamata Kedua, Melawan Kebutaan

Setelah pembaca mengetahui sosok Sarah Tsunami itu siapa? Kini, masih tentang anak tersebut, disajikan sebagai artikel lanjutannya, “Lika-liku Sarah Tsunami demi Kacamata Kedua, Melawan Kebutaan”. Selamat membaca …

Pertengahan Agustus 2014 telepon genggam Nurhadi, Ketua Harian DPW LSM CADAS (Ciri Aspirasi Dari Abdi Sanagara) di Sekretariat Jl. Diponegoro No. 23 Bandung berdering. Di seberang sana Juju Juariah (43), berkeluh-kesah perihal nasib putrinya Sarah Tsunami (8) penyandang keterbatasan penglihatan, low vision.

Lika-liku Sarah Tsunami demi Kacamata Kedua, Melawan Kebutaan

“Penglihatan Sarah makin menurun. Bacaan huruf di buku tak jelas lagi. Belum lagi harus beli seragam sekolah. Mau ke Cicendo (RS Mata – red) Bandung, tak punya ongkos. Padahal, waktunya ganti kacamata sudah cukup lama lewat. Harus gimana ya, makan sehari-hari saja susah …”, keluh Juju sendu yang tuna netra sejak usia kelas 3 SD. Belakangan, keluhan Juju ini disadari, tak lain – ingin bersegera mengobati mata putrinya, Sarah lebih jelas membaca buku!

Keluarga Sarah kini tinggal di rumah semi permanen berukuran kira-kira 40 meter persegi berlantai tanah padat bersama ibu dan ayahnya Utan (63), buruh tani serabutan. Kakak tirinya Supriatin (17) jebolan SMP kelas satu, yang tinggal serumah pun masih coba-coba mencari pekerjaan.

Praktis, penghasilan keluarga ini hanya mengandalkan keterampilan Juju sebagai pemijat panggilan. Rumah ini, letaknya sekitar 5 kilometer dari area rumahnya terdahulu yang hancur diterjang tsunami 8 tahun lalu. Tepatnya mereka tinggal di Kampung Bantarsari, Desa Bojong, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.

Sarah kini sudah duduk di kelas dua SDN 2 Bojong di Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. “Saya pengen baca buku banyak-banyak sekali. Tapi kepala Sarah kenapa ya suka puyeng …?”, itu katanya pada bulan Januari 2014 lalu kala pertama kali memperoleh bantuan kacamata tebal berspesifikasi plus 11,5 dan minus 1,5 dari RS Mata Cicendo Bandung.

Celotehan Sarah tentang matanya terlontar ketika LSM CADAS dan beberapa relawan sempat mengantarkan keluarga ini rekreasi ke Kebun Binatang Bandung (KBB). Sebelumnya, memang ada semacam “nazar” Sarah ketika mengurus sumbangan kacamata pertama pada bulan Januari 2014:”Kalau sudah punya kacamata, aku mau ke Kebun Binatang Bandung, lihat maung (harimau) dan gajah, juga ular besar. Pasti rame ya?”.

Nazar Sarah sudah kesampaian, walaupun saat ke KBB masih belum berkacamata, karena untuk memakainya harus menunggu pembuatannya yang memakan waktu paling sedikit seminggu lamanya. “Yang penting Sarah bisa naik gajah di kebun binatang. Ini akan jadi bahan dongengan menarik baginya. Bisa bercerita ke teman-temannya”, kata salah satu relawan Diah Puspitasari Momon mitra LSM CADAS yang pernah memfasilitasi Sarah selama di Bandung.

Gudar-Gedor
Tersebab keluhan terakhir Juju kepada Nurhadi, sontak beredar kabar diantara pengurus dan anggota LSM CADAS hari itu yang selama ini giat memperjuangkan hak sipil dan lingkungan hidup – Bagaimana mengupayakan agar keluarga Sarah bisa ke Bandung?

“Kalau sudah disini, kita bisa gudar-gedor (upaya darurat) mengetuk banyak kalangan”, kata Nurhadi dengan mimik sedikit kesal karena keterbatasanya. Masalahnya, bagaimana segera menghadirkan Sarah di Bandung?

Berhari-hari perihal penglihatan Sarah yang kembali mengeluh sehubungan kacamata pertamanya yang seharusnya diganti sejak Juni 2014 menjadi bahan keprihatinan anggota di lingkungan LSM CADAS. “Bawa atuh ke (RS Mata – red) Cicendo lagi. Tapi siapa ya, yang bisa bawanya dari Pangandaran. Kita belum punya jaringan kuat disana …?!”, ungkap Dikdik yang diamini Mang Cadox yang sudah paham siapa Sarah.

Diantara kebuntuan ini, timbullah solusi. Beberapa hari kemudian Juju oleh pengurus LSM CADAS disarankan menghubungi Plt Bupati Pangandaran, Endjang Naffandy.”Kami ini orang kecil, masa bisa ke rumah Pak Bupati segala. Tapi demi Sarah, akan dicoba”, kata Nurhadi menirukan suara Juju mereaksi sarannya.

Ambulans
Singkat kisah setelah beberapa kali Juju bolak-balik ke rumah Plt Bupati Pangandaran tentu dengan “modal nekad” segala, akhirnya ia diterima oleh istrinya Hj.Rd. Neneng Naffandy, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Pangandaran. “Pak, kami akan ke Bandung diantar mobil dari Pak Bupati. Tunggu besok pagi kami di Bandung ya”, jelas Nurhadi kembali menirukan suara Juju yang diutarakan melalui telepon genggam jadoelnya di Pangandaran.

Tunggu punya tunggu, kehadiran Sarah dan keluarganya di Bandung ternyata tak semulus yang dikira. Setelah tertunda beberapa kali, akhirnya Sarah tiba di Sekertariat LSM CADAS Bandung (2/9/2014). Belakangan diketahui melalui Ee Rahto, pengantarnya yang ditugaskan Plt Bupati Pangandaran:”Perjalanan ke Bandung banyak tertunda. Tadinya, malah mau diantar pake ambulans. Dipikir-pikir, kondisi Sarah sendiri tak begitu mengkhawatirkan. Diundurlah, sampai dapat pinjaman sedan ini”, jelas Ee yang ternyata adalah guru kelas enam di SDN 2 Bojong tempat Sarah bersekolah.

“Saya ditugaskan oleh Ibu Bupati, utamanya. Tahu persislah, Sarah ini di sekolah termasuk anak yang tekun dan rajin belajar. Sayang, penglihatannya terkendala. Kami semua prihatin”.

BACA JUGA:
Sarah Tsunami, Siapa?
5 Ciri-Ciri Low Vision

Sarah Tsunami, Siapa?

Delapan tahun lalu Sarah adalah orok yang saat itu usianya masih kurang dari 24 jam, dia merupakan satu-satunya yang selamat dari terjangan tsunami kala itu (17/07/2006) di pantai Pangandaran, Jabar Selatan.

Sore itu, Juju sedang mendekap orok merahnya di rumah ‘gubug’-nya dekat tepi pantai, tiba-tiba berselang beberapa detik setelah gempa kuat melanda sekitar pukul 16.00 WIB, mereka diterjang tsunami dahsyat. Tempat tinggalnya sekejap sirna, luluh lantak bersama ratusan penghuni di sekitar pantai ini.

Sedikitnya 500 orang tewas dan ribuan rumah di sepanjang ratusan km pantai Jabar Selatan porak poranda. “Kami terpisah, isteri saya entah dimana, orok Sarah entah kemana. Baru esoknya, kami bisa bertemu dengan isteri. Sedangkan Sarah, ditemukan orang beberapa jam kemudian diantara tumpukan sampah bercampur lumpur dan pasir pantai. Beberapa hari kemudian bayi yang tali pusarnya masih belum lepas sedang di kerubungi orang di tenda darurat”, kata Utan merunut kisah putrinya yang terkenal sebagai bayi ajaib.

Nama Sarah sendiri kata Utan, sebenarnya pemberian dari tokoh Jawa Barat, Eka Santosa anggota DPR RI (2004 – 2009). “Pak Eka sudah ada di Pangandaran dari Jakarta beberapa jam setelah kejadian tsunami. Ia pula yang sempat membawa Sarah dan ibunya dirawat di Cicendo waktu dulu itu”, tutur Utan.

”Benar, Sarah itu dalam bahasa setempat berarti sampah, utamanya daun di pinggir pantai atau hutan. Disambunglah namanya dengan peristiwa tsunami tahun 2006, jadilah Sarah Tsunami. Saya temukan bayi ajaib ini sedang diperbincangkan orang di tenda darurat beberapa hari setelah peristiwa. Segera dibawa ke RSUD Banjar. Selanjutnya bersama ibunya dirawat di RS Mata Cicendo Bandung”, jelas Eka per telepon (14/9/2014) yang kala itu sedang berada di Jakarta.

Bila berkenan dari peristiwa pilu ini, masih ada yang lebih beruntung dari pasangan Utan dan Juju, yakni Supriatin. Supriatin kini telah dewasa, saat kejadian ia sedang berkunjung ke rumah neneknya. “Rumah neneknya memang cukup jauh dari pantai. Ia selamat”, kata Juju dan Utan.

Dirut RS Mata Cicendo dan Tamunya

“Kami ucapkan terima kasih atas bantuan LSM CADAS. Apalagi tadi Sarah sempat dipertemukan dengan Pak Hikmat, Dirut RS Mata Cicendo, juga dengan petinggi Bank Mandiri. Semoga kacamata kedua ini bisa membantu penglihatan Sarah. Kami tunggu Pak kacamatanya kalau sudah selesai, kabari ya?”, demikian ucap Ee pengantar keluarga Sarah ketika berpisah dengan LSM CADAS pada sore hari, 2 September 2014. Sore itu, usai Sarah diperiksa matanya, ternyata bisa langsung kembali ke Pangandaran.

Menurut tim dokter mata di RS Mata Cicendo, kacamata kedua diperkirakan selesai dibuat sekitar seminggu atau sepuluh hari kemudian. Di bagian optik RS Mata Cicendo, Sarah usai diperiksa matanya sempat mengepas bingkai kacamata yang akan dipakai kelak.

Seperti biasanya, kehadiran Sarah selalu mengundang perhatian orang yang mengetahui kisahnya, termasuk kala di bagian optik RS Mata Cicendo. Öh, Sarah sudah besar sekarang. Saya kebetulan tahu dari TV ”, seru salah satu pengunjung RS Mata Cicendo asal Kabupaten Kuningan Jawa Barat.

“Kacamata kedua ini semoga bisa sedikit mengurangi rasa pening saat memakai kacamata pertama. Daya jangkau mata kanan maksimal 4 meter, yang kiri 6 meter, ini umum untuk penyandang low vision. Catatannya, 8 bulan lagi harus ada penyesuaian, dan rutin diperiksa”, kata dr. Astri Avianty dari bagian optik RS Mata Cicendo.

Menariknya, selama pemeriksaannya kali ini selain sempat dipertemukan langsung dengan Dirut RS Mata Cicendo, Dr Hikmat Wangsaatmaja, SpM (K),M. Kes, M.M, selaku penyumbang kacamata pertama dan kedua termasuk pemeriksaan selama ini, juga dipertemukan dengan tamu khusus lembaga kesehatan mata yang sudah berusia lebih dari satu abad.

Taklain tamu khusus itu Ka Kanwil 6 Bandung PT. Bank Mandiri (persero) Tbk, Gunawan:”Sudah lama dengar kisah bocah ajaib yang selamat dari tsunami Pangandaran. Bersyukur, kita dipertemukan. Semoga matanya tambah sehat ya setelah diperiksa tim dokter Pak Hikmat”, sapa Gunawan kepada Sarah di lobby RS Mata Cicendo.

Sarah Tsunami dan orang-orang yang menolongnya

Uniknya, pertemuan ini berlangsung di lobby yang berfasilitas sajian musik live piano. Sesekali perhatian Sarah terbelah antara denting lembut piano yang mengalunkan tembang legendaris “My Way” dengan sesi “pertemuan istimewa” kali itu. Menurut salah satu stafnya, kehadiran Gunawan pada hari itu, lembaga keuangan yang dipimpinnya memberikan sumbangan dana untuk memperlancar kinerja RS Mata Cicendo.

”Kesehatan mata itu penting. Saya terkesan dengan perjuangan para dokter disini yang selalu bersemangat, diantaranya pantang menyerah mengobati penderita katarak di pelosok Nusantara. Sumbangan kami ini kecil saja”, tambahnya low profile sambil membelai rambut bocah ajaib Sarah Tsunami. Bersambung …


BACA JUGA:
5 Ciri-Ciri Umum Low Vision

5 (lima) Ciri-ciri Umum Low Vision

Definisi Low Vision

Low vision merupakan kemampuan mata untuk melihat sebagian atau ”kurang awas”; salah satu bentuk gangguan penglihatan yang tidak dapat dibantu dengan menggunakan kacamata. Jarak pandang maksimal untuk penyandang low vision adalah 6 meter dengan luas pandangan maksimal 20° (derajat). Penyandang low vision hanya kehilangan sebagian penglihatannya dan masih memiliki sisa penglihatan yang dapat digunakan untuk beraktivitas.

5 (lima) Ciri-ciri Umum Low Vision:

Definisi dari WHO tentang Low Vision, menyebutkan, jika kacamata biasa atau lensa kontak tidak dapat mengembalikan ketajaman penglihatan seseorang ke keadaan normal, berarti ada kerusakan pada sistem penglihatannya, orang tersebut dikatakan menderita low vision. Tajam penglihatannya setelah koreksi refraktif >3/60 – <3/10 dan lapang penglihatannya < 10°. Jelaslah low vision berbeda dengan buta. Penderitanya cuma kehilangan sebagian penglihatannya dan masih memiliki penglihatan sisa yang dapat ditingkatkan bila difungsikan dengan benar.

5 (lima) Ciri-ciri Umum Low Vision:

  1. Menulis dan membaca dalam jarak dekat
  2. Hanya dapat membaca huruf berukuran besar
  3. Memicingkan mata atau mengerutkan dahi ketika melihat di bawah cahaya yang terang
  4. Terlihat tidak menatap lurus ke depan ketika memandang sesuatu
  5. Kondisi mata tampak lain, misalnya terlihat berkabut atau berwarna putih pada bagian luar

Nah, berbicara tentang low vision, ada kisah kehidupan seorang anak dari Pangandaran yang menyandang low vision. Gadis cilik ini terbilang ajaib; karena telah selamat dari terjangan Tsunami beberapa waktu yang lampau di Pantai Pangandaran. Namanya Sarah … Siapakah Sarah? Kenapa harus dijuluki Sarah Tsunami? Baca: Sarah Tsunami, Siapa?

Itulah sekilas informasi kesehatan tentang 5 (lima) Ciri-ciri Umum Low Vision. Semoga bermanfaat …  


Sumber tentang Low Vision: http://alatlowvision.blogspot.com/p/low-vision.html