Sejarah Ciwidey “Kasepuhan” dari Beberapa Versi Pencerita dan Tokoh

Sejarah Ciwidey “Kasepuhan” dari Beberapa Versi Pencerita dan Tokoh

Sejarah Ciwidey “Kasepuhan” dari Beberapa Versi Pencerita dan Tokoh adalah buku yang kami terima sudah dalam format PDF disusun oleh Ija Damin, S.Pd pada 2007.

Eyang Leman

Mari kita awali dengan mengenal sosok yang dituakan di Kampung Ciwidey hingga lebih kurang 1750, yaitu Eyang Leman. Beliau termasuk sosok yang berpengertian tinggi dan gagah perkasa. 

Eyang Leman memiliki anak perempuan yang bernama Nyimas Dewi Bungsu Manuroh. Pernah suatu hari, Eyang Leman berkata kepada anaknya tersebut.

“Di masa depan ada seorang pemuda yang akan membangun daerah,” ucap Eyang Leman.

Eyang Rangga Sadana

Sekitar tahun 1750 datang seorang pemuda dari daerah selatan barat bernama Eyang Rangga Sadana. Pemuda tersebut merupakan keturunan Eyang Maulana Yusup, Maulana Muhammad, Pangeran Ketib Salim dari Banten.

Anak-anak Pangeran Ketib Salim

Berikut ini anak-anak dari Pangeran Ketib Salim;

  1. Eyang NGaben Wangsadinata di Cidaun
  2. Eyang Jagasatru di Patengan
  3. Eyang Rangga Sadana Kaduagung di Ciwidey
  4. Eyang Dipanata di Naringgul/Cidaun
  5. Eyang Camat di Cihareuday

Pangeran Ketib Salim menugaskan kepada ke lima anaknya untuk membangun daerahnya masing-masing serta mengembangkan agama Islam. Contohnya, Eyang Jagasatru pergi ke Patengan dan Eyang Rangga Sadana Kaduagung pergi ke daerah Cileunca.

Eyang Rangga Sadana Menikah dengan Putri Dewi Bungsu Manuroh

Hingga lahir keturunan-keturunan Eyang Rangga Sadana, termasuk Kepala Desa Palayangan yang bernama Lurah Burhan. Lalu diceritakan, Eyang Rangga kembali ke Ciwidey. Dengan kepandaiannya, Eyang Rangga pernah menyembuhkan masyarakat Ciwidey yang menderita sakit dan menikah dengan Putri Dewi Bungsu Manuroh itupun terjadi setelah Eyang Leman pindah ke Cisondari.

Terjadi Perselisihan antara Eyang Leman dengan Eyang Rangga Sadana

Peristiwa-peristiwa yang mewarnai perjalanan Eyang Leman saat mengembangkan agama di Cisondari.

  • Terjadi perselisihan antara Eyang Leman dengan Eyang Rangga Sadana. Sehingga muncul peraturan, bahwa rusa buruan Eyang Leman yang masuk ke daerah Eyang Rangga Sadana tidak boleh dihak milik.
  • Kerbau hitam dari daerah Cisondari yang masuk ke daerah Ciwidey berubah menjadi kerbau putih.
  • Kerbau yang berasal dari Ciwidey bertanduk sanggadulang setelah masuk ke daerah Cisondari berubah bentuk menjadi tanduk dongkol.

Mengutip dari Wikipedia, Ciwidey merupakan sebuah desa di kecamatan Ciwidey, Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Sejak 1845, Desa Ciwidey sudah ada dan menjadi bagian dari 7 desa yang berada di Pemerintahan Kabupaten Bandung.

Setiap tahunnya, Desa Ciwidey mengalami perkembangan yang sangat pesat, terbukti sampai dengan hari ini (Rabu, 8 Juni 2022) Desa Ciwidey termashyur bila dibandingkan dengan desa-desa lain yang terdapat di Kecamatan Ciwidey.

Sejarah Ciwidey “Kasepuhan” dari Beberapa Versi Pencerita dan Tokoh
Ilustrasi Sejarah Ciwidey “Kasepuhan” dari Beberapa Versi Pencerita dan Tokoh | Foto: istimewa

Topologi desa Ciwidey memiliki letak di dataran rendah, berbukit dan dataran tinggi, dengan suhu udara rata-rata 2°C – 25°C, termasuk lebih dekat dengan objek-objek pariwisata menjadikan desa Ciwidey lebih populer.


BACA JUGA: Hotel Murah di Soreang

Klik di sini untuk mendapatkan informasi dan pemberitaan di Google News.


Share
%d bloggers like this: