Pembangunan Menanggulangi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di Kabupaten Bandung

Ada berapa banyak jumlah tidak layak huni sehingga perlu dicanangkan Pembangunan Menanggulangi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di Kabupaten Bandung? Sosial media Dinas Komunikasi dan Informasi Kab. Bandung memberikan infografik tentang ini.

Menurut data jumlah pembangunan RTLH (Rumah Tidak Layak Huni) yang telah dilakukan pada 2018 oleh Disperkimtan (Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan) sebanyak 1270 RTLH yang tersebar ke 30 kecamatan di Kabupaten Bandung. Jumlah pembangunan RTLH terendah pada 2018 terdapat di kecamatan Cilengkrang yang mencatat hanya 8 RTLH dibangun di wilayah ini.

Data RTLH di Kabupaten Bandung 2018
Data RTLH di Kabupaten Bandung 2018 | sumber: Disperkimtan Kabupaten Bandung

Pembangunan Menanggulangi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di Kabupaten Bandung

Dengan jumlah hanya 8 RTLH, Kecamatan Cilengkrang menjadi wilayah dengan pembangunan RTLH terendah dari total pembangunan 1270 RTLH di 30 kecamatan, Kabupaten Bandung.

Cilengkrang sebagai kecamatan dengan jumlah RTLH terendah se-Kabupaten Bandung pada 2018
Cilengkrang sebagai kecamatan dengan jumlah RTLH terendah se-Kabupaten Bandung pada 2018

Adapun jumlah pembangunan lainnya di Kabupaten Bandung pada 2018 adalah sebagai berikut:

  • Kecamatan Nagreg memiliki 41 RTLH,
  • Kecamatan Cikancung memiliki 25 RTLH,
  • Kecamatan Rancaekek memiliki 48 RTLH,
  • Kecamatan Ciparay memiliki 61 RTLH,
  • Kecamatan Pacet memiliki 68 RTLH,
  • Kertasari memiliki 40 RTLH.
6 kecamatan di Kabupaten Bandung dengan jumlah RTLH lainnya
6 kecamatan di Kabupaten Bandung dengan jumlah RTLH lainnya

Berikut masih jumlah pembangunan RTLH lainnya pada 2018 di sejumlah kecamatan di Kabupaten Bandung.

  • Baleendah memiliki 74 RTLH,
  • Majalaya memiliki 46 RTLH,
  • Solokan Jeruk memiliki 22 RTLH,
  • Paseh memiliki 42 RTLH,
  • Ibun memiliki 76 RTLH,
  • Soreang memiliki 36 RTLH.
6 kecamatan lain di Kabupaten Bandung yang dibangunkan Rumah Layak Huni pada 2018
6 kecamatan lain di Kabupaten Bandung yang dibangunkan Rumah Layak Huni pada 2018

Pembangunan Menanggulangi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di Kabupaten Bandung

Dari seluruh 30-an kecamatan yang ada di Kabupaten Bandung ternyata terdapat satu kecamatan yang tidak ditemukan rumah tidak huni yaitu Kecamatan Kutawaringin. Masih menyambung data RTLH lainnya, berikut 4 kecamatan lain:

  • Pasirjambu memiliki 51 RTLH,
  • Ciwidey memiliki 16 RTLH,
  • Rancabali memiliki 16 RTLH,
  • Cangkuang memiliki 42 RTLH.
Kecamatan Kutawaringin Kabupaten Bandung tidak ditemukan RTLH
Di Kecamatan Kutawaringin Kabupaten Bandung tidak ditemukan RTLH

Masih ada kecamatan lain yang memiliki jumlah pembangunan rumah layak huni di Kabupaten Bandung berdasarkan jumlah RTLH, antara lain:

  • Katapang memiliki 32 RTLH,
  • Pamengpeuk memiliki 17 RTLH,
  • Pangalengan memiliki 80 RTLH,
  • Arjasari memiliki 74 RTLH,
  • Cimaung memiliki 55 RTLH,
  • Cicalengka memiliki 13 RTLH.
RTLH lain di beberapa kecamatan yang ada di Kabupaten Bandung
RTLH lain di beberapa kecamatan yang ada di Kabupaten Bandung

Tadi sempat dibahas di tengah artikel Pembangunan Menanggulangi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di Kabupaten Bandung terdapat jumlah RTLH terendah. RTLH terendah dimiliki oleh kecamatan Cilengkrang sedangkan kecamatan yang mendapat predikat sebagai kecamatan terbanyak jumlah RTLH-nya dipegang oleh Banjaran.

Sebagai pemegang predikat RTLH terbanyak, Banjaran mengantongi 103 RTLH
Sebagai pemegang predikat RTLH terbanyak, Banjaran mengantongi 103 RTLH dari total pembangunan sebanyak 1270 RTLH yang tersebar di 30 kecamatan, Kabupaten Bandung.

Selanjutnya jumlah RTLH yang lain pada 2018:

  • Cileunyi memiliki 29 RTLH,
  • Cimenyan memiliki 18 RTLH,
  • Dayeuhkolot memiliki 18 RTLH,
  • Bojongsoang memiliki 16 RTLH,
  • Margaasih memiliki 15 RTLH,
  • Margahayu memiliki 13 RTLH.
Jumlah pembangunan RTLH lain di kecamatan Kabupaten Bandung pada 2018
Jumlah pembangunan RTLH lain di kecamatan Kabupaten Bandung pada 2018

Pembangunan Menanggulangi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di Kabupaten Bandung

Pembaca Klik Soreang … Kita sudah mafhum bahwa rumah adalah salah satu kebutuhan primer sebagai tempat tinggal, beristirahat setelah seharian beraktifitas serta rutinitas sehari-hari, tempat manusia membangun keluarga dan menghabiskan waktu bersama.

Rumah sehat didefinisikan sebagai rumah yang layak huni dengan tujuan agar keluarga kita sehat dan terhindar dari berbagai penyakit.
Akan tetapi kondisi berkata lain, di Kabupaten Bandung masih jamak masyarakat yang memiliki Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).

Karena itu Pemerintah Kabupaten Bandung melalui Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman dan Pertanahan (DISPERKIMTAN) mengupayakan pembangunan rumah layak untuk mengentaskan RTLH. Semoga artikel ini menjadi inspirasi bagi kita semua. Selamat beraktifitas!

Royal Golden Eagle Ajari Orang Memanfaatkan Sampah Menjadi Berkah

Royal Golden Eagle Ajari Orang Memanfaatkan Sampah Menjadi Berkah – Sampah biasanya identik dengan kotoran yang dibuang. Jangankan memanfaatkan, orang biasanya enggan berdekatan dengan sampah. Namun, Royal Golden Eagle (RGE) menghadirkan cara pandang berbeda terkait sampah. Mereka justru mengubahnya menjadi hal bermanfaat sebagai berkah bagi orang banyak.

Source: Inside RGE
Source: Inside RGE

Asian Agri yang merupakan salah satu anak usaha RGE, sukses memperkenalkan program ini. Perusahaan yang berkiprah dalam industri kelapa sawit ini gencar mengampanyekan pengelolaan sampah. Pasalnya, mereka tahu persis bahwa sampah sudah menjadi masalah global.

Perlu disadari, Indonesia memiliki reputasi kurang baik. Negeri kita dikenal sebagai penghasil sampah plastik terbesar kedua di dunia. Ini bisa terjadi karena tidak ada manajemen yang baik dalam pengelolaan sampah.

Tentu predikat tersebut tidak membanggakan. Sebagai bagian dari RGE yang gencar menjaga lingkungan, Asian Agri terpanggil untuk berbuat sesuatu. Wujud konkritnya ialah gerakan untuk memanfaatkan sampah menjadi berkah bagi berbagai pihak.

Royal Golden Eagle Ajari Orang Memanfaatkan Sampah Menjadi Berkah

Contoh nyata dilakukan oleh lini usaha Royal Golden Eagle tersebut di Desa Air Emas, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau pada 2016. Asian Agri menggelar pelatihan khusus dalam pengelolaan sampah pada 30-31 Agustus 2016.

Dalam pelatihan tersebut, lini bisnis RGE di bidang kelapa sawit itu menjalin kerja sama dengan Tanoto Foundation dan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Pelalawan. Mereka mengajari sekitar 30 orang masyarakat Desa Air berbagai cara mengelola sampah dengan baik.

Ada banyak hal yang diajarkan. Pertama adalah manajemen sampah yang baik. Dalam kesempatan tersebut, warga diperlihatkan contoh nyata dalam mengelola sampah dengan sistem bank sampah. Kegiatan itu diharapkan menarik warga untuk mengikutinya karena hanya dengan membuang sampah mereka bisa menuai rupiah.

Selain itu, Asian Agri juga mengajari pemanfaatan sampah secara kreatif. Warga diajari mengubah sampah menjadi beberapa kerajinan yang hasilnya dapat dijual. Buahnya akan sangat banyak. Bukan hanya lingkungan menjadi bersih dan sehat, masyarakat juga bisa mendapatkan penghasilan tambahan.

“Kebanyakan orang akan berpikir bahwa sampah adalah hal yang kotor dan merusak lingkungan. Padahal dengan kreativitas, ternyata sampah itu bisa kita sulap menjadi rupiah. Oleh karena itu, hari ini Asian Agri, BLH Kabupaten Pelalawan, dan Tanoto Foundation melakukan pelatihan pengelolaan sampah. Harapan kami pelatihan dapat meningkatkan kreativitas warga,sehingga ke depan lebih banyak produk-produk daur ulang yang bisa dihasilkan, yang bermanfaat bagi banyak orang serta menambah pundi-pundi masyarakat,” ujar Welly Pardede, Head Sustainability & CSR Asian Agri.

Royal Golden Eagle Ajari Orang Memanfaatkan Sampah Menjadi Berkah

Sebelumnya anak usaha Royal Golden Eagle ini telah melakukan terobosan di Desa Air Hitam yang tidak jauh dari Desa Air Emas. Di sana mereka membuat sistem pengelolaan sampah yang dikenal sebagai Bank Sampah Asri.

Dalam sistem ini, kesadaran warga dalam mengelola sampah disentuh. Warga diminta mengumpulkan sampah ke Bank Sampah Asri. Anak usaha Royal Golden Eagle ini menjadikan hal itu sebagai bentuk tabungan. Nantinya, dalam periode tertentu tabungan sampah tersebut akan dibagikan dalam bentuk uang kepada warga yang menabung. Menggiurkan sekali bukan?

Menurut Direktur Bank Sampah Asri, Satori, hasil yang diraup dari sistem tabungan sampah ini cukup menarik bagi warga desa. Ia menyatakan rata-rata sampah yang dikelola oleh Bank Sampah Asri ini mencapai satu hingga 1,5 ton per bulan. Semua itu menghasilkan pendapatan Rp2 juta hingga Rp2,5 juta per bulan.

Namun, bukan jumlah uang yang dikejar oleh anak usaha Royal Golden Eagle dalam Bank Sampah Asri. Kesadaran warga terhadap pengelolaan sampah yang baik dirasa lebih penting. Pasalnya, perusahaan yang dulu bernama Raja Garuda Mas tersebut punya tekad untuk menjaga keseimbangan iklim. Pengelolaan sampah termasuk di bawahnya.

Perlu diketahui, pendiri RGE, Sukanto Tanoto, telah menetapkan prinsip yang dikenal sebagai 5C sebagai arahan kerja perusahaan. Melalui prinsip tersebut, Sukanto Tanoto menginginkan agar Royal Golden Eagle mampu memberi manfaat kepada pihak lain, bukan hanya perusahaan. Secara khusus, ia ingin grup yang awalnya bernama Raja Garuda Mas ini berguna untuk negara, masyarakat, hingga aktif dalam menjaga keseimbangan iklim.

Cara Kreatif Dalam Pemanfaatan Sampah

Sampah disadari telah menjadi problem besar. Jika tidak dikelola dengan baik, keberadaannya bisa merusak lingkungan. Atas dasar ini, berbagai cara kreatif agar sampah tidak dibuang sembarangan dimunculkan. Salah satunya dengan memanfaatkan sampah sebagai bahan cenderamata.

Hal ini sudah dilakukan secara nyata oleh Asian Agri di Desa Air Hitam. Sesudah sampah dikumpulkan dalam Bank Sampah Asri, lini usaha RGE ini menyulapnya menjadi cenderamata. Warga desa kemudian diajari. Akhirnya mereka pun piawai membuatnya sendiri.

Royal Golden Eagle Ajari Orang Memanfaatkan Sampah Menjadi Berkah

Cenderamata dari sampah itu akhirnya menjadi tambahan penghasilan bagi warga desa. Menurut Satori, upaya warga desa Air Hitam mendaur ulang sampah secara kecil-kecilan menjadi produk kerajinan menghasilkan uang Rp2juta per tahun.

Tak heran, kegiatan pengelolaan sampah yang dijalankan oleh Asian Agri mendapat sambutan apik dari warga desa. Salah seorang warga desa Air Hitam, Yusnita, yang telah mengikuti pelatihan mengaku sangat terbantu.

“Kami sangat berterima kasih atas pelatihan pengelolaan sampah yang telah dilakukan perusahaan. Harapan kami agar bimbingan dan dukungan dari perusahaan dapat terus berkelanjutan, sehingga kami semakin ahli dalam berkreasi untuk mengelola limbah sampah agar dapat menghasilkan rupiah,” ujar Yusnita.

Sementara itu, Pemerintah Daerah Kabupaten Pelalawan sangat mendukung upaya penyadaran pengelolaan sampah yang kreatif oleh Asian Agri. Mereka menilai manajemen sampah sudah menjadi kebutuhan krusial di masyarakat. Pasalnya, sampah telah menjadi problem besar di mana pun.

Menurut data dari Greenation serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), konsumsi plastik di Indonesia mencapai 9,8 miliar. Kebanyakan hanya dibuang saja sehingga menjadi sampah.

Royal Golden Eagle Ajari Orang Memanfaatkan Sampah Menjadi Berkah

Hal ini membuat KLHK berusaha untuk menekan penggunaan kantong plastik supaya sampah tidak semakin banyak. KLHK menargetkan pengurangan sampah plastik termasuk konsumsi kantongan plastik lebih dari 1,9 juta ton sampai tahun 2019.

 

Cara-Kreatif-Dalam-Pemanfaatan-Sampah
[istimewa]
“Sampah telah jadi masalah global, sehingga dibutuhkan kepedulian dari berbagai elemen bangsa. Pada hari ini kami sangat berterima kasih atas sinergi pemerintah, perusahaan, dan masyarakat, sehingga Bank Sampah Asri ini dapat menjadi bank sampah yang paling aktif di Kabupaten Pelalawan,” ujar Kepala BLH Kabupaten Pelalawan, Syamsul Anwar.

Syamsul tidak salah. Sedikit apa pun pengelolaan sampah yang baik amat vital. Berdasarkan data yang dirilis oleh Antara Riau, total jumlah sampah di Indonesia pada tahun 2019 diperkirakan mencapai 68 juta ton. Dari jumlah itu, sebanyak 14 persen atau 9,52 juta ton di antaranya adalah sampah plastik sehingga perlu dikurangi.

Bank sampah yang digagas oleh Asian Agri merupakan salah satu terobosan apik. Begitu pula halnya dengan pemanfaatan sampah menjadi bahan produk yang bermanfaat yang digulirkan oleh lini usaha Royal Golden Eagle itu. Hal tersebut akan membuka mata masyarakat bahwa sampah tidak selamanya menjadi kotoran. Jika jeli, mereka bisa mendulang rupiah dari sana. [w3/3/2018-pbn]

Warga Bangkinang Bisa Kuliah Ke Luar Negeri Berkat Dukungan PT RAPP

Warga Bangkinang Bisa Kuliah Ke Luar Negeri Berkat Dukungan PT RAPP – Keberadaan PT Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP) menghadirkan berkah bagi para warga di sekitarnya. Bukan hanya dalam segi ekonomi, PT RAPP juga memberikan kesempatan untuk meraih pendidikan yang lebih baik.

RAPP Riau merupakan unit operasional APRIL Group di Indonesia. Mereka dikenal sebagai salah satu produsen pulp dan kertas terbesar di dunia. Kapasitas produksinya menjadi bukti. Per tahun, APRIL sanggup menghasilkan pulp sebanyak 2,8 juta ton dan kertas sebanyak 850 ribu ton.

Kemampuan itu tak lepas dari kejelian APRIL dalam mendapatkan bahan baku. Mereka bisa konsisten memperolehnya karena mengelola perkebunannya sendiri. Saat ini, APRIL tercatat memiliki perkebunan seluas 476 ribu hektare yang dikelola bersama 40 mitra pemasok jangka panjang.

Dalam pengelolaan perkebunan, APRIL menyerahkannya kepada RAPP Riau. Sebagai unit bisnis bagiannya, RAPP menjalankan pengelolaan perkebunan, merawat, hingga mengolah bahan baku menjadi pulp dan kertas.

Riau Andalan Pulp & Paper memiliki basis operasi di Pangkalan Kerinci. Di sana mereka punya pabrik yang terintegrasi dengan perkebunan. RAPP menanaminya dengan pohon akasia dan eukaliptus yang menjadi bahan baku pulp dan kertas.

Keberadaan PT RAPP menjadi berkah bagi banyak pihak di sekitarnya. Paling terlihat adalah dampak ekonomi. RAPP Riau memutar roda perekonomian di sana. Mereka juga membuka lapangan kerja yang besar.

Hasil riset Unit Penelitian Ekonomi dan Sosial Universitas Indonesia bisa menjadi acuan. Mereka menyatakan bahwa APRIL yang menjadi induk RAPP mampu menyediakan lapangan kerja langsung bago 5.900 orang. Selain itu, mereka juga membuka lapangan pekerjaan tidak langsung kepada 11.200 kontraktor.

Akan tetapi, berkah yang dirasakan bukan hanya dari segi ekonomi. Warga di sekitar area operasional Riau Andalan Pulp & Paper juga merasakan dukungan besar terhadap perkembangan pendidikannya.

Banyak yang merasakannya. Salah satunya adalah Sri Wahdini Rahmi atau yang akrab disapa Nani. Wanita asal Bangkinang, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau ini bisa merasakan kuliah di luar negeri berkat dukungan PT RAPP.

Nani tercatat bisa menempuh studi di Asian Institute Technology Thailand selama dua tahun. Ia masuk pada 2010 dan menyelesaikan perkuliahannya pada 2012.

Di sana Nani mengambil studi manufaktur pulp dan kertas. Kebetulan bidang tersebut sesuai dengan latar belakangannya sebagai salah satu karyawan di Riau Andalan Pulp & Paper.

Awal mula peruntungan Nani bisa kuliah di Thailand dimulai dari program di RAPP. Talent Management PT RAPP menawari kesempatan tersebut dengan sistem program beasiswa.

Kala itu, Nani sebelumnya ragu. Ia masih berikir-pikir untuk melanjutkan studi di luar negeri. Sebab, ia kurang yakin dengan kemampuannya sendiri.

“Saya sempat menolak karena tidak pede, tapi dari Talent Management meyakinkan bahwa saya mampu. Berat juga harus jauh dari keluarga. Tapi akhirnya saya terima,” kata Nani di Bisnis.com.

            Sesudah itu Nani mulai menjalani proses seleksi. Penyaringan program beasiswa ini dimulai dengan seleksi di tingkat perusahaan meliputi tes psikotes dan wawancara. Setelah itu, ia melakukan tes di univesitas terkait dan tes TOEFL.

Beruntung, Nani yang merupakan lulusan Universitas Sriwijaya ini mampu melewati rangkaian tes dengan baik. Ia akhirnya mendapatkan kesempatan studi di luar negeri secara gratis.

“Pada 2010, di angkatan saya ada 5 orang yang menerima beasiswa magister. Saya jadi satu-satunya perempuan pada waktu itu,” ujar Nani di Tribunnews.com.

Sebagai penerima beasiswa dari RAPP Riau, Nani mendapat sejumlah keuntungan. Ia memperoleh dukungan biaya pendidikan dan biaya hidup selama menjalani pendidikan. Selain itu, karena sudah berstatus sebagai karyawan RAPP, ia tetap mendapatkan gaji seperti biasa.

“Bantuan beasiswa saya sekitar Rp60 juta per semester,  biaya hidup 15 ribu baht atau sekitar 6 juta rupiah. Gaji pun tetap dibayarkan, karena yang ikut sudah ada yang berkeluarga, jadi seperti Pegawai Negeri Sipil,” ujar Ari.

foto pelengkap artikel berita tentang Warga Bangkinang Bisa Kuliah Ke Luar Negeri Berkat Dukungan PT RAPP

MENAMBAH ILMU DAN PENGALAMAN

Jadilah Nani menjalani kuliah di Thailand. Mulanya sebagai orang Indonesia di negeri lain, ia merasa kikuk. Perlu ada penyesuaian yang harus dilakukannya terhadap kehidupan di Negeri Gajah Putih.

Namun, karena mau belajar, Nani bisa menyesuaikan diri dengan baik. Sesudahnya ia mampu menjalani kuliah dengan baik. Selain itu, Nani mengaku mendapatkan manfaat besar lain berupa pengalaman hidup yang penting.

Selama kuliah di Asian Institute Technology Thailand, Nani juga bisa merasakan hidup di dua negara lain, yakni Jepang dan Kanada. Hal itu diperolehnya berkat program di tempatnya menuntut ilmu.

Nani mendapat kesempatan mengikuti program Summer School selama 4 bulan di Tohoku University dan University of British Columbia (UBC). Pengalaman itu dirasanya sangat berkesan.

“Sewaktu menjalani kuliah untuk mengambil titel master, saya bisa ke Jepang, Kanada, lewat program Summer School. Itu dapat pembiayaan dari universitas yang mengundang,” kata Nani.

Selain pengalaman menarik hidup di negeri asing, Nani juga mendapat ilmu yang banyak. Kuliah jenjang master di negeri asing memudahkannya untuk mengembangkan kemampuan di Riau Andalan Pulp & Paper. Alhasil, sesudah studinya selesai, Nani mampu bekerja dengan semakin baik.

Saat ini, Nani bekerja di Divisi Continuous Improvement Pulp and Paper. Di sana ia bertugas untuk memastikan setiap kegiatan perusahaan berjalan dengan efisien dan tepat sasaran  demi peningkatan produktivitas kerja.

Oleh sebab itu, Nani sangat berterima kasih kepada RAPP Riau yang memberinya kesempatan mengikuti program beasiswa. Apalagi, ia merasa kesejahteraannya semakin meningkat setelah bekerja di PT RAPP. Sebagai bukti, Nani mampu mengajak ibunya menjalani umrah.

Alhamdulillah, 2 tahun lalu (pada 2015, Red.) saya sudah berangkat umrah bersama ibu, dan memang saya bangga menjadi bagian dari keluarga besar RAPP,” ujar Nani.

Riau Andalan Pulp & Paper memang memberi kesempatan kepada karyawannya untuk meningkatkan pendidikan. Mereka membuka program beasiswa yang dapat diikuti oleh siapa saja tanpa memandang asal divisi atau bagian pekerjaannya.

Pendidikan memang menjadi bagian penting dalam tubuh PT RAPP. Mereka ingin semua pihak mampu terus meningkatkan kualitas ilmunya dengan beragam cara.

Hal ini tidak hanya dinikmati oleh para karyawan RAPP. Sebagai bukti, hingga saat ini, APRIL yang menjadi induk perusahaan RAPP sudah memberikan sejumlah program beasiswa kepada masyarakat di sekitar wilayah operasionalnya. Penerimanya beragam mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Selain itu, mereka juga memberi pelatihan kepada guru dan menyediakan fasilitas serta peralatan sekolah.

Khusus untuk beasiswa sekolah, APRIL sudah memberikannya kepada 17.613 siswa sekolah dasar dan menengah. Mereka juga menawarkan 50 beasiswa untuk lulusan sekolah menengah untuk melanjutkan studi pertanian diploma di INSTIPER.

Sementara itu, terkait pengembangan fasilitas sekolah APRIL membantu renovasi dan pengembangan 219 sekolah di daerah pedesaan sejak tahun 1999. Mereka juga mensponsori pelatihan untuk 600 guru sejak tahun 2009 hingga 2012.

Semua dilakukan oleh induk perusahaan PT RAPP sebagai bagian dari langkah untuk memberi manfaat kepada masyarakat dan negara. Hal itu merupakan kewajiban dalam perusahaan yang harus dijalankan secara konsisten. [w4/01/01/2018-pbn]